Jakarta(DKI Jakarta),Cybermabespolri.com —Minta maaflah kepada anak ketika kita memang bersalah.”Kalimat sederhana, tetapi tidak selalu mudah bagi seorang ayah atau ibu untuk mengucapkannya. Sebagian orang tua takut meminta maaf akan mengurangi wibawa. Padahal dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia mempertahankan ego, melainkan dari kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan kembali kepada kebenaran.
Allah SWT berfirman:
«“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)»
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa orang yang kuat bukanlah yang mampu mengalahkan orang lain, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Maka ketika seorang ayah atau ibu menyadari telah berkata kasar, berlaku tidak adil, atau melukai hati anak, mengucapkan “maaf” bukan tanda kelemahan. Itu adalah tanda keberanian, ketakwaan, dan keteladanan.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu merasa benar. Anak membutuhkan orang tua yang mampu menunjukkan bagaimana seorang manusia memperbaiki kesalahan.
Sebab suatu hari nanti, kekuatan orang tua akan berkurang. Rambut memutih, tubuh melemah, dan anak-anak tumbuh menjadi manusia dewasa yang memiliki pilihan hidupnya sendiri.
Yang akan mereka ingat bukan hanya apa yang pernah kita berikan kepada mereka, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan hati mereka.
Jangan sampai ketika kita sudah tua, anak hadir hanya karena kewajiban, tetapi hatinya telah jauh karena luka yang dahulu tidak pernah kita akui.
Islam mengajarkan birrul walidain, tetapi Islam juga mengajarkan kasih sayang, kelembutan, keadilan, dan akhlak. Hubungan antara orang tua dan anak bukan sekadar tentang siapa yang harus dihormati, tetapi juga tentang bagaimana keluarga menjadi tempat tumbuhnya iman, kasih sayang, dan ketenangan.
Karena itu, jika hari ini kita sebagai orang tua pernah salah kepada anak, jangan terlalu tinggi mempertahankan ego untuk sekadar mengucapkan:
“Nak, Ayah/Ibu minta maaf. Ayah/Ibu juga manusia. Pernah salah, pernah khilaf. Maafkan kami.”
Barangkali kalimat itu sederhana bagi kita, tetapi bisa menjadi obat bagi luka yang bertahun-tahun tersimpan di hati seorang anak.
Dan jangan lupa, setiap anak adalah amanah dari Allah SWT. Kelak amanah itu akan dipertanggungjawabkan.
Mendidik anak bukan hanya membuat mereka takut kepada orang tua, tetapi membuat mereka mengenal Allah, mencintai kebaikan, menghormati sesama, dan tetap memiliki hati yang lembut kepada keluarganya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita orang tua yang bukan hanya ingin dihormati oleh anak-anak, tetapi juga layak dicintai, dikenang dengan kebaikan, dan didoakan setelah kita tiada.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh:
DR. H. Mohamad Husein Khan Alhabsy, S.H., M.Pd.
Penulis : Budi Rizki Yanto
Editor : Red
Sumber Berita: DR. H. Mohamad Husein Khan Alhabsy, S.H., M.Pd.












