Cybermabespolri.com
PALEMBANG – Di tengah derasnya arus duniawi yang hiruk-pikuk tipu daya dunia yang kian menyilaukan, guru Besar Jaya Sempurna Singo Mataram menyampaikan amanat sakral Senin malam tanggal 30 Maret di kediamannya seputaran Sako mengenai hakikat kebenaran manusia. Beliau menegaskan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari rutinitas ibadah lahiriah semata, melainkan pada kesiapan ruh saat menghadapi gerbang keabadian.
Dalam keheningan kontemplasi yang mendalam, Guru Besar Singo Mataram menyampaikan bahwa ukuran kemuliaan seorang hamba tidaklah terletak pada panjangnya sujud yang tertangkap oleh mata manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas bahwa tumpukan amal dan rutinitas ibadah lahiriah bukanlah jaminan mutlak sebuah kebenaran.
Bagi beliau,bahwa kebenaran bukanlah sekadar hiasan bibir dalam doa, bukan pula deretan angka dalam hitungan amal, melainkan sebuah peristiwa agung yang tersingkap saat ruh bersiap melintasi gerbang keabadian.
“Kebenaran sejati seorang manusia hanya akan teruji secara radikal pada satu titik yaitu Detik Kematian,” tutur beliau dengan penuh wibawa.
Beliau membedah bahwa kebenaran akan mewujud nyata saat raga dan ruh bersiap untuk berpisah. Di titik itulah, seluruh sandiwara dunia berakhir dan kesejatian diri dimulai.
Guru Besar mengajak setiap jiwa untuk meninggalkan “topeng” ritual yang selama ini sering kali kosong dari pengenalan (ma’rifat) yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Guru Besar Jaya Sempurna Singo Mataram membawa kita menyelami kedalaman firman Allah SWT dalam Surah Al-Wāqi`ah ayat 87: “Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”
Beliau membedah ayat ini sebagai sebuah Tantangan Langit. Jika seorang hamba mengaku benar di hadapan Sang Khalik, maka ia wajib memiliki “kedaulatan ruhani” untuk mengembalikan nyawanya sendiri ke hadirat-Nya secara sadar, ridha, dan penuh cinta.
Pesan sakral ini memberikan peringatan keras bagi jiwa yang buta akan “jalan pulang”. Beliau memaparkan perbedaan nasib ruh di penghujung nafas “Antara Penyerahan Suci dan Pencabutan Paksa”.
“Bagi Jiwa yang Buta,mereka yang tidak mengenali “Jalan Pulang, maka Malaikat Izrail akan datang menjemput dengan cara mencabutnya secara paksa. Inilah esensi kekafiran sejati sebuah ketidaktahuan yang berujung pada keterpisahan abadi dari Sang Kekasih”.
“Sebaliknya, bagi orang yang beriman, mengembalikan nyawa adalah sebuah tugas suci. Ia tidak menunggu nyawanya dirampas oleh maut, melainkan secara aktif “menyerahkan” kembali amanah ruh tersebut kepada Sang Pemilik Nyawa, Allah SWT “,dengan nada tegasnya.
Maklumat ini bukanlah sekadar peringatan, melainkan undangan bagi setiap pencari Tuhan untuk mulai mengenali “pintu kepulangan” sebelum waktu yang ditentukan tiba. Guru Besar Jaya Sempurna Singo Mataram mengajak kita semua untuk melampaui ritual lahiriah demi meraih kemerdekaan ruhani yang hakiki.
Pesan agung ini ditutup dengan sebuah kalimat yang menggetarkan sanubari, “Kenalilah tempat kembalimu, agar engkau tidak pulang tersesat semakin jauh, melainkan kembali sebagai hamba yang memeluk cinta di haribaan-Nya,” tutup dialognya.












