BANYUASIN, SUMATERA SELATAN,cybermabespolri.com — Kondisi perairan di Jalur 8, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dikeluhkan sejumlah pengguna transportasi air. Jalur yang menjadi akses bagi tongkang, ketek, speedboat, dan berbagai jenis angkutan air tersebut dinilai membutuhkan pengerukan, pembersihan, serta perawatan secara berkala.
Pantauan di lapangan pada Kamis (1/10/2026) menunjukkan sejumlah bagian jalur mengalami pendangkalan, baik di sisi kiri dan kanan maupun di bagian tengah alur. Kondisi tersebut diperparah dengan tumbuhnya rerumputan, semak, dan pepohonan di sepanjang tepian jalur.
Sejumlah dahan pohon bahkan terlihat menjuntai hingga ke arah tengah alur. Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu pengguna transportasi air, terutama tongkang berukuran besar yang melintas di jalur tersebut.

Selain persoalan pendangkalan, sejumlah pengguna tongkang juga mengeluhkan sulitnya mencari tempat untuk menepi. Tepian jalur yang dipenuhi pepohonan dan semak lebat membuat ruang untuk bersandar menjadi semakin terbatas.
Salah seorang sopir tongkang berinisial PRN, warga kawasan Jalur 8 Air Salek, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Menurutnya, perawatan jalur perairan diduga sudah puluhan tahun tidak dilakukan secara optimal.
“Mungkin sudah puluhan tahun belum ada perawatan, tongkang aku jugo dulu sempat jebol keno kayu, barang penumpang aku abes basa galo dan rusak, termasuk aku jugo,” ujar PRN.
Ia menceritakan, tongkang yang dikemudikannya pernah mengalami kerusakan setelah terkena batang kayu yang roboh ke jalur perairan. Insiden tersebut tidak hanya merusak bagian tongkang, tetapi juga menyebabkan barang bawaan ikut terdampak.
Kondisi pendangkalan alur juga menjadi persoalan serius bagi pengguna transportasi air. Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat sebuah tongkang pengangkut pupuk untuk kebutuhan petani yang sempat mengalami kandas dan tidak dapat mencapai lokasi tujuan.
Tongkang tersebut dilaporkan kandas selama kurang lebih empat hari empat malam. Kondisi itu menyebabkan distribusi pupuk kepada penerima menjadi terhambat karena muatan tidak dapat segera dibawa ke lokasi yang dituju.
Pembongkaran Darurat
Pantauan terbaru menunjukkan tongkang bermuatan pupuk akhirnya melakukan pembongkaran darurat karena tidak dapat mencapai lokasi tujuan akibat kondisi alur yang sulit dilalui.
Menurut salah seorang anggota tongkang, proses pembongkaran darurat dilakukan pada Rabu (30/9/2026) dan berlangsung hingga malam hari. Setelah pembongkaran selesai, tongkang diupayakan kembali beraktivitas seperti biasa.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian para pengguna jalur perairan. Mereka berharap pihak terkait segera melakukan pengerukan atau normalisasi alur, membersihkan pepohonan yang mengganggu jalur, serta melakukan perawatan secara berkala.
Perawatan dinilai penting agar aktivitas transportasi dan distribusi berbagai komoditas, mulai dari padi, sawit, pupuk hingga kebutuhan masyarakat lainnya, dapat berjalan lebih lancar dan aman.
Para pengguna jalur juga berharap persoalan pendangkalan dan pepohonan yang menghambat alur tidak dibiarkan berlarut-larut. Pasalnya, Jalur 8 Air Salek merupakan salah satu akses penting bagi masyarakat serta pelaku usaha angkutan air di kawasan tersebut.
Penulis : Rosidi
Editor : Rosidi
Sumber Berita: Pantauan di lapangan












