BIAK NUMFOR,cybermabespolri.com| 2 Juni 2026 — Tragedi ledakan maut yang mengguncang Kompleks Perikanan, Jalan Walter Monginsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, terus menyisakan luka mendalam sekaligus menghadirkan pertanyaan besar terkait keberadaan material peledak aktif di tengah permukiman warga.
Memasuki hari ketiga pasca-ledakan (H+3), aparat gabungan masih berjibaku di lapangan untuk mengungkap seluruh fakta di balik insiden yang telah merenggut nyawa warga sipil dan menghancurkan kawasan permukiman tersebut. Tim yang terdiri dari Polri, Brimob, Basarnas, Tim Jibom Gegana Polda Papua, hingga unsur laboratorium forensik masih melakukan operasi pencarian, identifikasi korban, dan sterilisasi lokasi.
Korban Jiwa Bertambah Menjadi Enam Orang
Duka kembali menyelimuti keluarga korban setelah satu korban luka yang sebelumnya dirawat intensif di RSUD Biak dinyatakan meninggal dunia.
Korban diketahui bernama Almarhumah Mina Puadi (51), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kompleks Perikanan, Distrik Biak Kota.
Dengan meninggalnya Mina Puadi, jumlah korban tewas akibat ledakan tersebut kini mencapai enam orang. Sementara itu, satu korban masih menjalani perawatan intensif dan 16 korban lainnya menjalani rawat jalan dengan pengawasan tenaga medis.
Bertambahnya jumlah korban memperlihatkan bahwa daya ledak yang terjadi bukanlah ledakan biasa, melainkan memiliki kekuatan destruktif yang mampu menghancurkan bangunan sekaligus menimbulkan dampak fatal terhadap manusia di sekitar titik ledakan.
Temuan Mengerikan di Ring 2
Di saat publik menunggu kepastian nasib tiga warga yang masih dinyatakan hilang, operasi pencarian di wilayah Ring 2 menghasilkan temuan yang memilukan.
Tim Basarnas bersama unsur gabungan menemukan lima serpihan bagian tubuh manusia di kawasan pesisir dan perairan sekitar lokasi kejadian.
Temuan tersebut diduga kuat merupakan bagian tubuh dari tiga korban yang hingga kini belum ditemukan secara utuh.
Kondisi ini menggambarkan betapa dahsyatnya ledakan yang terjadi. Gelombang ledakan diduga melemparkan bagian tubuh korban hingga ke area pesisir yang berada di luar pusat ledakan.
Seluruh serpihan yang ditemukan telah diamankan untuk proses identifikasi lebih lanjut oleh Tim DVI Polda Papua yang segera diterjunkan guna mempercepat proses pencocokan identitas korban.
Ring 1 Masih Zona Merah
Hingga malam ini, pusat ledakan atau Ring 1 masih belum dinyatakan aman untuk dimasuki secara bebas.
Tim Jibom masih menemukan berbagai material berbahaya yang berpotensi menimbulkan ledakan susulan. Kondisi tersebut memaksa aparat membatasi akses masyarakat demi mencegah jatuhnya korban baru.

Fakta bahwa area inti ledakan masih menyimpan ancaman menunjukkan bahwa kawasan tersebut diduga menjadi tempat berkumpulnya sejumlah material peledak aktif peninggalan perang yang selama ini tidak terdeteksi secara maksimal.
Operasi Senyap Jibom Bongkar Bahaya Tersembunyi
Di tengah proses pencarian korban, Tim Jibom Gegana Polda Papua melakukan operasi pemusnahan terhadap sejumlah bahan peledak yang ditemukan di lokasi.
Material berbahaya yang berhasil diamankan dan dimusnahkan antara lain:
1 granat nanas aktif
1 granat manggis aktif
Selain itu, petugas juga mengamankan:
2 proyektil aktif yang telah dilumpuhkan melalui metode gerinda amunisi
2 granat nanas
1 granat manggis
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa lokasi kejadian bukan hanya menyimpan satu jenis bahan peledak, melainkan berbagai jenis amunisi peninggalan perang yang masih memiliki daya ledak mematikan meski telah berusia puluhan tahun.
Mortir Personel Aktif Jadi Kunci Investigasi
Temuan paling penting dalam penyelidikan sejauh ini adalah hasil identifikasi terhadap sumber ledakan utama.
Berdasarkan pemeriksaan fisik dan analisis awal aparat, benda yang menjadi pemicu tragedi tersebut dipastikan merupakan mortir personel aktif.
Fakta ini membuka babak baru penyelidikan. Pertanyaan yang kini berkembang di tengah masyarakat adalah bagaimana mortir aktif tersebut bisa berada di tengah lingkungan pemukiman warga dan mengapa benda berbahaya itu tidak terdeteksi lebih awal sebelum memicu bencana.
Penyidik diperkirakan akan menelusuri rantai kepemilikan, lokasi penemuan awal, hingga aktivitas yang terjadi sebelum ledakan berlangsung.
Warga Serahkan Mortir dan Amunisi Aktif
Pasca-ledakan, kesadaran masyarakat mulai meningkat.

Beberapa warga secara sukarela menyerahkan benda-benda peninggalan perang yang selama ini mereka simpan kepada aparat keamanan.
Dari penyerahan tersebut, petugas berhasil mengamankan:
3 mortir personel aktif
30 butir amunisi kaliber 7,62 mm
Temuan itu menjadi alarm serius bahwa masih banyak sisa-sisa alutsista Perang Dunia II yang kemungkinan tersebar di wilayah Biak dan berpotensi mengancam keselamatan masyarakat apabila tidak segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
Pertanyaan Besar yang Menunggu Jawaban
Tragedi Biak kini bukan lagi sekadar peristiwa ledakan biasa. Kasus ini berkembang menjadi penyelidikan besar terkait keberadaan amunisi aktif peninggalan perang di tengah kawasan permukiman.
Enam nyawa telah melayang, puluhan warga menjadi korban, dan tiga orang masih menunggu kepastian identitas melalui proses forensik.
Di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung, satu fakta menjadi semakin jelas: bahaya terbesar bukan hanya ledakan yang sudah terjadi, tetapi kemungkinan masih adanya material peledak aktif yang tersembunyi di lingkungan masyarakat.
Aparat meminta warga yang menemukan mortir, granat, amunisi, atau benda logam mencurigakan agar tidak menyentuh, memindahkan, atau menyimpannya, melainkan segera melaporkannya kepada pihak kepolisian untuk dilakukan penanganan sesuai Prosedur yang Berlaku.
Penulis : henrry Morin
Editor : Za
Sumber Berita: Papua












