DUGAAN KORUPSI BKBK GUBERNUR SUMSEL 2020-2022 DISIDIK KORTASTIPIDKOR MABES POLRI, BUDI RIZKIYANTO: SK GUBERNUR KUNCI UNGKAP SKANDAL”Diduga Ada Fee 20%, Pertanggungjawaban Janggal, LKPJ Mulus. Penyidik Diminta Telusuri SK Verifikasi SKPD”

- Penulis

Senin, 11 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cybermabespolri.com

PALEMBANG– Penggiat Kontrol Sosial, Budi Rizkiyanto, menyoroti perkembangan penyidikan *dugaan* tindak pidana korupsi Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) Gubernur Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2020, 2021, dan 2022 yang kini diduga ditangani Kortastipidkor Mabes Polri.

BKBK Gubernur Sumsel diduga menjadi objek perkara setelah ditengarai terjadi penyimpangan prosedur, penyimpangan pertanggungjawaban, tidak dibahas dalam LKPJ, serta *dugaan* adanya `fee komitmen` hingga lebih dari 20%.

“Penyidik Kortastipidkor Mabes Polri diduga menerapkan prinsip kehati-hatian meneliti bukti dokumen. Ini penting karena diduga bisa saja ada dokumen yang baru dibuat untuk melengkapi berkas yang diminta penyidik sehingga seolah tidak ada masalah,” ujar Budi, Sabtu (9/5/2026).

Menurut Budi, kunci pengungkapan dugaan perkara korupsi BKBK Gubernur Sumsel terletak pada Surat Keputusan (SK) Gubernur kepada SKPD terkait untuk melakukan verifikasi dan validasi data proposal permohonan bantuan dana Kabupaten/Kota.

“SK Gubernur untuk SKPD terkait diduga dibuat oleh BPKAD sebelum SKPD melakukan verifikasi dan validasi data. Isi SK tersebut diduga menjelaskan ruang lingkup kerja dan tanggung jawab SKPD. Pertanyaannya apakah SK ini ada dan diterima oleh Pimpinan SKPD sebelum verifikasi, atau diduga baru dibuat saat penyidik Kortastipidkor Mabes Polri meminta data BKBK ke BPKAD Sumsel?” tegas Budi.

Berdasarkan informasi dari salah satu SKPD terkait, dalam konsideran SK Gubernur tersebut diduga menyatakan SKPD bertanggung jawab melakukan verifikasi, monitoring, dan pertanggungjawaban keuangan, atau semua tanggung jawab diduga ditanggung renteng.

“Pimpinan SKPD tentunya tidak gegabah melakukan verifikasi dan validasi proposal bila mereka membaca dan menerima SK Gubernur karena isinya diduga menjelaskan lingkup tanggung jawab di luar verifikasi dan validasi data. Jika diduga benar, maka Pengguna Anggaran yaitu Gubernur Sumsel dan BPKAD diduga bisa terlepas dari tanggung jawab bila ada masalah terkait pengelolaan BKBK,” lanjut Budi.

Budi juga menyoroti dugaan kejanggalan pada LKPJ Gubernur Sumsel. Pertanggungjawaban pelaksanaan BKBK oleh Kabupaten/Kota diduga disampaikan ke Gubernur melalui BPKAD dan dibahas dalam LKPJ. Namun, di dalam paripurna DPRD setelah berakhirnya tahun anggaran diduga nyaris tak terdengar ada masalah keuangan BKBK tahun 2020, 2021, dan 2022.

“Apakah BKBK ada di dalam LKPJ Gubernur Sumsel tahun 2020, 2021, dan 2022 dan dibahas oleh DPRD Sumsel? Faktanya, keuangan BKBK diduga diterima tanpa cela oleh para anggota DPRD dalam rapat paripurna tahun 2020, 2021, dan 2022. Ini diduga janggal jika dibandingkan dengan temuan penyidikan sekarang,” kata Budi.

Desakan Budi Rizkiyanto kepada Kortastipidkor Mabes Polri

Telusuri Keabsahan & Waktu Terbit SK Gubernur Uji forensik digital kapan SK verifikasi SKPD itu dibuat. Jika diduga dibuat `backdate` setelah kasus mencuat, maka diduga ada upaya menghalangi penyidikan Pasal 21 UU Tipikor.
Periksa Seluruh Pimpinan SKPD & BPKAD Minta keterangan di bawah sumpah apakah mereka menerima SK sebelum verifikasi atau sesudahnya. Diduga ada peran BPKAD dalam pembuatan SK.
Audit Ulang LKPJ 2020-2022 Panggil Pimpinan & Anggota DPRD Sumsel periode itu. Minta klarifikasi kenapa dugaan masalah BKBK tidak terdeteksi di paripurna. Diduga ada pembiaran.
Telusuri Aliran Dana `Fee 20%` Terapkan TPPU. Sita aset pihak-pihak yang diduga menerima jika ada 2 alat bukti.

“Asas praduga tak bersalah untuk semua pihak tetap kami hormati. Tapi dugaan kerugian negara dari BKBK ini tidak boleh hilang. Kortastipidkor jangan ragu. Jika diduga terbukti, tetapkan tersangka. Jangan sampai SK Gubernur dijadikan tameng lepas tanggung jawab PA dan KPA,” tutup Budi.

Hingga rilis ini diturunkan, Sabtu (9/5/2026), belum ada keterangan resmi dari Kortastipidkor Mabes Polri, Gubernur Sumsel, BPKAD Sumsel, maupun DPRD Sumsel terkait dugaan perkara BKBK tersebut.

Penulis : Budi

Editor : Za

Sumber Berita: Palembang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cybermabespolri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BUDI RIZKIYANTO KECAM KERAS INSIDEN SANTRI DIDUGA KERACUNAN MBG: “NYAWA ANAK-ANAK JAUH LEBIH BERHARGA DARIPADA EGO SEORANG PEMIMPIN”
MENANGGAPI UCAPAN PRESIDEN PRABOWO: PASAL 33 HARUS MENJADI KEKUATAN NYATA RAKYAT
Tingkatkan Kamseltibcarlantas,Satlantas Polres Rejang Lebong Gelar Sosialisasi Tertib Lalu-Lintas di Batalyon 144/JY
Polda Sumsel Ungkap Kasus Persetubuhan dan Pencabulan Anak di Kalidoni
HUT ke-78 Polwan , Kapolres Rejang Lebong Berikan Apresiasi dan Potong Tumpeng
Kapolda Sumsel Sambut Lawatan Kerja Kajati Sumsel yang Baru
Penegakan Hukum Karhutla Harus Berbasis Teknologi, Ini Gagasan Tony Saputra Tony Saputra Soroti Strategi Collaborative Policing Hadapi Karhutla dan Ancaman Asap Lintas Batas
Wakapolda Sumsel Perkuat Penyidikan untuk Optimalkan Penegakan Hukum Karhutla
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 09:01 WIB

BUDI RIZKIYANTO KECAM KERAS INSIDEN SANTRI DIDUGA KERACUNAN MBG: “NYAWA ANAK-ANAK JAUH LEBIH BERHARGA DARIPADA EGO SEORANG PEMIMPIN”

Rabu, 2 September 2026 - 08:50 WIB

MENANGGAPI UCAPAN PRESIDEN PRABOWO: PASAL 33 HARUS MENJADI KEKUATAN NYATA RAKYAT

Selasa, 1 September 2026 - 22:58 WIB

Tingkatkan Kamseltibcarlantas,Satlantas Polres Rejang Lebong Gelar Sosialisasi Tertib Lalu-Lintas di Batalyon 144/JY

Selasa, 1 September 2026 - 22:32 WIB

HUT ke-78 Polwan , Kapolres Rejang Lebong Berikan Apresiasi dan Potong Tumpeng

Selasa, 1 September 2026 - 18:19 WIB

Kapolda Sumsel Sambut Lawatan Kerja Kajati Sumsel yang Baru

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!