BIak Numfor(Papua), cybermabespolri.com — Festival Budaya Byak Melanesia (FBBM) 2026 tidak sekadar menjadi panggung tarian dan tabuhan tifa. Penyerahan 38 sertifikat kekayaan intelektual kepada Pemerintah Kabupaten Biak Numfor menjadi salah satu momentum penting dalam upaya melindungi warisan budaya masyarakat adat Byak dari risiko penggunaan tanpa pengakuan dan perlindungan hukum.
Festival yang berlangsung di Lapangan Cenderawasih, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Sabtu (17/10/2026), resmi dibuka oleh Bupati Biak Numfor Markus Octavianus Mansnembra, S.H., M.M., bersama Wakil Gubernur Papua Dr. Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, S.P., M.Eng.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Biak Numfor juga menerima tiga piagam penghargaan khusus dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum RI Provinsi Papua. Penyerahan dokumen ini menempatkan perlindungan kekayaan intelektual sebagai salah satu isu penting di tengah perayaan kebudayaan masyarakat Byak.
Perlindungan Budaya Tidak Boleh Berhenti pada Seremoni
Sebanyak 38 sertifikat kekayaan intelektual yang diserahkan menjadi bagian dari upaya pengakuan dan perlindungan terhadap karya budaya, seni, serta ekspresi tradisional masyarakat Biak. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan dokumen tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat adat sebagai pemilik dan penjaga warisan budaya.
Perlindungan budaya tidak cukup hanya melalui pencatatan administratif. Pemerintah daerah bersama pemangku adat perlu memastikan identitas budaya, asal-usul, hak masyarakat, serta tata cara pemanfaatannya dihormati, termasuk ketika unsur budaya tersebut digunakan untuk kepentingan komersial.
Langkah ini juga penting agar promosi budaya Byak tidak hanya mendatangkan perhatian dari luar daerah, tetapi turut memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat adat, seniman, perajin, dan pelaku usaha lokal.
Bupati dan Wakil Gubernur Tekankan Pelestarian Budaya
Bupati Markus Octavianus Mansnembra menyampaikan bahwa keberhasilan menjaga dan mendaftarkan kekayaan intelektual daerah merupakan hasil kerja bersama masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal dan dihormati oleh generasi berikutnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen menyoroti pentingnya menjaga jati diri masyarakat adat di tengah perkembangan zaman. Festival budaya, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa tradisi tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern.
Kehadiran pemerintah kabupaten dan provinsi sekaligus memperlihatkan dukungan terhadap penyelenggaraan festival yang kembali masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, sebagaimana disampaikan dalam informasi penyelenggaraan kegiatan.
Festival Harus Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Di balik pertunjukan seni dan keramaian pengunjung, festival budaya juga menyimpan peluang bagi perekonomian lokal. Wakil Bupati Biak Numfor Jimmy C. Kapissa menekankan harapan agar kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk penjual kuliner lokal dan perajin.
Peluang itu perlu diterjemahkan ke dalam langkah konkret, seperti penyediaan ruang berjualan yang memadai, promosi produk lokal, pelibatan pelaku usaha kampung, serta pendataan transaksi selama festival berlangsung.
Dengan demikian, keberhasilan FBBM tidak hanya diukur dari kemeriahan pembukaan atau banyaknya pengunjung, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
Transparansi mengenai jumlah pelaku UMKM yang terlibat, nilai transaksi, serta dampak terhadap pendapatan warga dapat menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan festival pada tahun-tahun berikutnya.
Dari Biak Menuju Panggung Budaya Pasifik
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Markus juga menyampaikan rencana penyelenggaraan Karnaval Budaya Pasifik pada Oktober, dengan gagasan melibatkan negara-negara kawasan Pasifik, termasuk Papua Nugini dan Selandia Baru.
Rencana tersebut membuka peluang bagi Biak Numfor untuk memperluas promosi budaya Melanesia sekaligus membangun hubungan melalui diplomasi kebudayaan. Namun, pelaksanaannya memerlukan persiapan yang terukur, mulai dari kepastian jadwal, dukungan anggaran, keterlibatan komunitas adat, hingga strategi promosi dan kerja sama dengan pihak terkait.
Jika dipersiapkan secara matang, kegiatan berskala internasional dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya Byak kepada khalayak yang lebih luas. Sebaliknya, perencanaan yang tidak disertai target dan evaluasi berisiko membuat manfaat kegiatan sulit diukur.
Dalam rangkaian acara itu, Bupati Markus juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-75 kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, disertai doa agar Presiden diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan tugas negara.
Menjaga Warisan Leluhur, Memastikan Manfaat bagi Generasi Muda
FBBM 2026 mempertemukan agenda pelestarian budaya, perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Keempat aspek tersebut perlu berjalan beriringan agar kebudayaan tidak hanya tampil dalam festival, tetapi tetap hidup dalam keseharian masyarakat Byak.
Penyerahan 38 sertifikat dan tiga piagam penghargaan menjadi momentum yang perlu ditindaklanjuti dengan program perlindungan, dokumentasi, pendidikan budaya bagi generasi muda, serta pemberdayaan seniman dan pelaku usaha lokal.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah festival budaya bukan semata-mata kemeriahan panggungnya. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana warisan leluhur tetap terlindungi, masyarakat adat dihormati haknya, dan generasi muda memperoleh ruang untuk meneruskan identitas budaya mereka.
Cybermabespolri.com — Tajam Mengawal Fakta, Kuat Menyuarakan Kepentingan Publik.
Penulis : Henrry morin
Editor : Red
Sumber Berita: Acara Festival Budaya Byak 2026











