Indralaya (Sumatera Selatan),Cybermabespolri.com — Pemerhati Kebijakan Publik Budi Rizkiyanto meminta seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, memperkuat pendidikan karakter dan keteladanan, khususnya di lingkungan lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Menurut Budi, predikat “Kota Santri” tidak cukup hanya tercermin dari banyaknya lembaga pendidikan keagamaan atau aktivitas pembelajaran agama. Nilai kesantunan, adab, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, orang tua, dan masyarakat harus menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
“Pendidikan jangan hanya mengajarkan sopan santun ketika siswa berada di dalam sekolah. Akhlak harus dibawa keluar dari pagar sekolah—ke rumah, jalan, lingkungan masyarakat, dan ruang publik. Di situlah karakter seorang pelajar benar-benar terlihat,” tegas Budi.
Budi menekankan, kritik tersebut bukan ditujukan untuk menyalahkan siswa, melainkan menjadi pengingat bersama bahwa pendidikan karakter merupakan tanggung jawab sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Di sisi lain, Budi meminta seluruh pihak terkait transparan apabila terdapat penggunaan anggaran pendidikan maupun bantuan pembangunan sekolah, termasuk memastikan setiap dana digunakan sesuai peruntukan dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.
Terkait informasi bantuan pembangunan SD Al-Ittifaqiyah Indralaya pada 2019, terdapat angka maksimum hibah sebesar Rp906.333.000 dari Pemerintah Jepang. Budi menegaskan angka tersebut merupakan riwayat bantuan tahun 2019, bukan temuan audit BPK dan bukan anggaran revitalisasi 2026, sehingga tidak boleh dicampuradukkan tanpa dokumen pendukung.
“Saya meminta seluruh informasi anggaran dibuka berdasarkan dokumen resmi. Berapa pagunya, untuk apa digunakan, bagaimana realisasinya, dan apa hasilnya. Kalau semuanya sesuai ketentuan, tentu harus kita hormati. Tetapi apabila ditemukan ketidaksesuaian, silakan diperiksa berdasarkan bukti dan mekanisme hukum yang berlaku,” ujar Budi.
Budi berharap Indralaya benar-benar mampu mempertahankan citranya sebagai kota pendidikan dan kota santri, bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi melalui lahirnya generasi yang cerdas, berintegritas, berakhlak, menghormati sesama, dan mampu menunjukkan kesantunan di mana pun berada.
“Gedung sekolah dapat dibangun dengan anggaran. Tetapi karakter manusia dibangun dengan pendidikan, keteladanan, kedisiplinan, dan konsistensi. Inilah investasi pendidikan yang sesungguhnya,” pungkas Budi Rizkiyanto.
BUDI RIZKIYANTO
Pemerhati Kebijakan Publik
Penulis : Budi Rizki Yanto
Editor : Red
Sumber Berita: Budi Rizki Yanto










