Cybermabespolri.com
PALEMBANG – Tidak semua mimpi masa kecil berakhir menjadi kenyataan. Namun terkadang, jalan yang berbeda justru membawa seseorang menemukan panggilan hidup yang sesungguhnya.
Itulah yang dialami Heniy Lestari, S.Pd., Gr., M.Pd. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi dokter. Dunia medis begitu memikat hatinya. Namun, kehidupan memiliki rencana lain. Dorongan sang ayah yang menginginkan dirinya berkecimpung di dunia pendidikan perlahan mengubah arah langkahnya.
Ayahnya meyakini bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi pengabdian yang memberi ruang luas untuk keluarga dan kesempatan membimbing generasi penerus. Keyakinan itu yang akhirnya ia jalani — meski awalnya bukan pilihan utama.
Lulusan S1 Fakultas Bahasa Inggris dan S2 Magister Pendidikan dari Universitas PGRI Palembang ini mengaku, perjalanan di dunia pendidikan justru membawanya menemukan makna yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di ruang kelas, ia tidak hanya mengajar. Ia belajar.
Dari para siswa, ia memahami arti kesabaran, empati, serta pentingnya menjadi pendengar yang baik. Ia tak sekadar menyampaikan materi Bahasa Inggris — mata pelajaran yang kerap dianggap sulit — tetapi berusaha menghadirkannya dengan cara yang relevan dan membumi. Diskusi-diskusi kecil bersama siswa bahkan kerap memperkaya wawasannya sendiri. Baginya, guru adalah pembelajar sepanjang hayat.
Sebagai ibu dari tiga anak, naluri keibuannya tak pernah lepas di lingkungan sekolah. Ia memandang setiap murid seperti anak sendiri — dirangkul, dibimbing, bahkan menjadi tempat mereka berbagi cerita dan keresahan.
Kepercayaan besar datang pada Juli 2025. Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMK Shailendra Palembang.
Tugas itu mengubah cakrawala pengabdiannya. Jika sebelumnya ia fokus pada karakter siswa di kelas, kini tanggung jawabnya meluas — membangun komunikasi harmonis dengan seluruh guru, menyatukan visi, serta menjaga ritme kolaborasi demi kemajuan sekolah.
Peran baru ini menuntutnya memahami beragam karakter, menjembatani perbedaan, dan menghadirkan kepemimpinan yang merangkul. Ia menyadari, pendidikan berkualitas tidak pernah lahir dari kerja individu, melainkan dari kebersamaan dan kepercayaan.
Dari mimpi menjadi dokter hingga menemukan cinta sejati di dunia pendidikan, perjalanan Heniy Lestari membuktikan satu hal: panggilan hidup sering kali ditemukan dalam proses, bukan dalam rencana.
Di ruang kelas dan ruang kepemimpinan, ia terus menanamkan dedikasi, empati, dan semangat kolaborasi — demi satu tujuan besar: membangun generasi masa depan yang lebih baik.












