Biak Numfor (Papua), Cybermabespolri.com — Lapangan Cenderawasih, Kabupaten Biak Numfor, Papua, berubah menjadi panggung kolosal kebudayaan yang memancarkan energi, kreativitas, dan kebanggaan generasi muda Papua.
Pembukaan Festival Budaya Biak Melanesia (FBBM) 2026, Sabtu (17/10/2026), menghadirkan pertunjukan monumental yang menempatkan seni tradisional sebagai instrumen diplomasi budaya sekaligus penegasan identitas masyarakat Melanesia di hadapan dunia.
Sebanyak 2.026 pelajar dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK tampil secara serentak menyanyikan lagu-lagu daerah Papua dengan iringan alat musik jukulele. Pertunjukan massal tersebut dilaporkan berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori penampilan dengan jumlah peserta terbanyak melalui format hybrid.
Bukan sekadar pertunjukan musik, penampilan ribuan pelajar itu menjadi representasi hidup tentang bagaimana warisan leluhur dapat diwariskan melalui pendidikan, kreativitas, dan partisipasi generasi muda. Balutan busana adat yang berwarna-warni, harmoni suara, serta permainan musik yang terkoordinasi menjadikan pembukaan festival sebagai peristiwa budaya yang sarat makna.
Di tengah perhatian para tamu undangan, termasuk perwakilan negara sahabat dan wisatawan mancanegara, Biak memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah daerah tidak semata-mata ditentukan oleh sumber daya alam, melainkan juga oleh kemampuan masyarakatnya menjaga identitas, mengembangkan kreativitas, dan memperkenalkan kekayaan budayanya kepada komunitas internasional.
Ribuan Pelajar, Satu Harmoni: Budaya Menjadi Bahasa Universal
Keterlibatan 2.026 pelajar dalam satu pertunjukan besar memperlihatkan potensi seni sebagai media pembelajaran kolektif. Musik tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang pendidikan karakter, pembentukan rasa percaya diri, dan penguatan hubungan generasi muda dengan akar budayanya.
Bagi Papua, yang memiliki keragaman bahasa, tradisi, dan ekspresi kesenian, keterlibatan generasi muda menjadi faktor strategis dalam memastikan keberlanjutan kebudayaan. Festival semacam ini memberikan ruang bagi pelajar untuk tampil sebagai pelaku kebudayaan, bukan sekadar penonton atau penerima warisan sejarah.
Keberhasilan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan. Peran guru, seniman, sekolah, orang tua, pemerintah, dan komunitas adat diperlukan agar penampilan spektakuler di atas panggung dapat berkembang menjadi pembelajaran budaya yang terus hidup setelah festival berakhir.
Bupati Biak Numfor, Markus Octovianus Mansnembra, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi kepada para pelajar yang telah menunjukkan keberanian dan kemampuan mereka dalam agenda budaya berskala internasional tersebut.
“Melihat anak-anak kita berani tampil tegak di panggung internasional adalah kebahagiaan yang tidak ternilai. Saya berterima kasih kepada para guru pendamping, seniman, dan terutama orang tua di rumah,” demikian apresiasi Bupati Markus dalam sambutannya.
Ia menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam membangun keberanian anak untuk tampil dan mengembangkan potensi diri.
“Dukungan dan doa dari orang tua di rumah adalah fondasi utama yang membuat anak-anak kita berani tampil memukau dunia hari ini,” tambahnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa prestasi generasi muda bukanlah hasil kerja satu pihak. Di balik penampilan besar yang terlihat di panggung, terdapat proses pendidikan, latihan, pendampingan, serta dukungan keluarga yang menjadi fondasi keberhasilan.
Dua Festival Internasional dalam Setahun, Peluang Strategis bagi Biak
FBBM 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Biak Numfor memperkuat posisi daerah melalui agenda pariwisata berbasis kebudayaan. Pada tahun yang sama, Biak juga menyelenggarakan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW), sehingga kedua festival tersebut menjadi momentum penting dalam memperkenalkan potensi daerah kepada khalayak yang lebih luas.
Penulis : Henrry morin
Editor : Red
Sumber Berita: Tim











