Biak Numfor,(Papua)-Cybermabespolri.com— Rangkaian epik Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 resmi menurunkan tirainya pada Senin (7/7/2026) di Lapangan Cenderawasih. Namun, penutupan yang diwarnai gemuruh ribuan penonton ini bukanlah sebuah akhir, melainkan prolog bagi eskalasi ambisi pariwisata Kabupaten Biak Numfor.
Di bawah sorot lampu dan semarak budaya, Bupati Markus Oktovianus Mansnembra,S.H,M.M meretas visi baru: menyelenggarakan Festival Budaya Biak (FBB) pada Oktober 2026 sebagai manifesto pelestarian adat Saireri dan akselerator ekonomi daerah.
Selama tujuh hari pelaksanaannya, FBMW 2026 berhasil bertransformasi dari sekadar selebrasi tahunan menjadi episentrum diplomasi budaya dan perputaran ekonomi sirkular.
Tradisi arkais yang dipertontonkan, seperti Apen Beyeren (berjalan di atas karang membara) hingga Snap Mor (metode penangkapan ikan komunal), tidak hanya menjadi etalase eksotis bagi turis domestik dan mancanegara, tetapi juga mesin penggerak denyut nadi UMKM Orang Asli Papua (OAP).Kemegahan festival ini semakin paripurna dengan terjadinya konvergensi peradaban lintas wilayah.
Kehadiran delegasi Kabupaten Asmat dari Papua Selatan, yang mengusung sakralitas ukiran kayu dan ritual patung Mbis, membuktikan kapasitas Biak sebagai ruang perjumpaan budaya tingkat tinggi.
Momentum keberhasilan ini direspons dengan presisi oleh otoritas pariwisata setempat. Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun,S.Pi,M.Si menegaskan bahwa jeda waktu hingga Oktober merupakan fase kalibrasi yang krusial.
Pariwisata Biak kini tidak lagi berpuas diri pada standar lokal, melainkan tengah membidik ceruk pasar global.”Kesuksesan 13 rangkaian acara FBMW tahun ini adalah modalitas absolut bagi kami. Menuju Festival Budaya Biak di bulan Oktober, kami tidak sekadar merayakan ulang, tetapi mengevaluasi total dan merekonstruksi standar kenyamanan, keamanan, serta ekologi pariwisata demi memenuhi ekspektasi wisatawan global,” tegas Onny Dangeubun.
Pernyataan tersebut merefleksikan pergeseran paradigma yang tajam; dari sekadar menjaga tradisi menjadi industrialisasi pariwisata berkelanjutan bertaraf internasional.
Menjelang perhelatan FBB Oktober mendatang, tantangan Biak Numfor kini beralih dari panggung perayaan ke meja perencanaan. Dengan sinergi lintas sektoral yang kokoh, Biak Numfor tidak lagi hanya merawat warisan masa lalu, tetapi sedang menempa fondasi kokoh untuk berdiri di garis depan peta pariwisata dunia.
Penulis : Henrry Morin
Editor : As
Sumber Berita: Kadis Parawisata Biak Numfor,Turbey Onny Dangeubun,S.Pi,M.Si












