LEBONG Bengkulu – Jalan lintas Curup–Muara Aman bukan lagi sekadar infrastruktur yang rusak; ia adalah monumen kegagalan abadi yang dipahat oleh tangan-tangan dingin pemerintah yang bebal. Jalur ini telah menjelma menjadi penghinaan nyata terhadap martabat manusia. Di saat rakyat dipaksa bertaruh nyawa di atas kubangan lumpur yang haus darah, para pemangku kebijakan justru tampak asyik memoles citra, mendekap kursi jabatan yang empuk, seolah tuli terhadap jerit kematian yang mengintai di setiap lubang menganga.
Pemda Lebong: Mandul Nyali, Miskin Solusi
Sikap Pemerintah Daerah (Pemda) Lebong dalam menghadapi lumpuhnya urat nadi ekonomi ini benar-benar memuakkan. Di tengah kondisi darurat yang menuntut aksi heroik, Pemda justru tampil gagap, loyo, dan tanpa taji. Predikat “kurang gercep” hanyalah eufemisme halus untuk menutupi ketidakberdayaan mereka yang memalukan.
Alih-alih melancarkan lobi agresif yang menggebrak meja kekuasaan di tingkat atas, Pemda Lebong justru terjebak dalam retorika basi dan drama birokrasi yang memuakkan. Ketidakmampuan mereka mendesak percepatan perbaikan adalah bukti sahih bahwa kepemimpinan di daerah ini sedang mengalami mati suri. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri, sementara elitnya sibuk mencari alasan untuk sekadar menyelamatkan muka.
Dinas PU Provinsi: Menikmati “Gaji Berdarah” di Kursi Goyang
Tudingan paling tajam mengarah tepat ke jantung Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bengkulu, khususnya Bidang Bina Marga. Kinerja mereka adalah nol besar yang memuakkan. Masyarakat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para pejabat provinsi ini hanya mampu “duduk manis di kursi goyang” di bawah dinginnya AC, sementara aspal di Lebong telah membusuk menjadi kubangan kerbau yang menghina logika.
Hancurnya jalan ini adalah bukti bahwa koordinasi antarinstansi tak lebih dari bualan sampah di atas kertas formalitas. Bidang Bina Marga seolah sengaja menutup mata, menulikan telinga, dan membatu hati. Apakah mereka butuh tumpukan mayat rakyat Lebong di pinggir jalan hanya untuk sekadar menggerakkan alat berat dari bengkel mereka?
Aroma Busuk Anggaran dan Mentalitas “Tikus”
”Kami menjerit, mereka berpesta!” Kalimat itu membakar amarah pengguna jalan. Publik kini mencium aroma busuk di balik hancurnya infrastruktur ini. Ada kecurigaan kuat bahwa para pejabat hanya berpikir keras tentang bagaimana cara “melahap” anggaran demi mengejar target serapan, tanpa sedikit pun memikirkan kualitas.
Proyek tambal sulam yang hanya bertahan seumur jagung adalah bukti nyata rendahnya integritas. Rakyat menuding mereka hanya memakan “gaji buta” yang dibayar dari keringat petani yang truknya terbalik di jalan rusak. Ini bukan lagi soal teknis pengerjaan, ini adalah soal moralitas yang sudah kadaluwarsa.
Jalur Maut yang Menghina Akal Sehat
Melintasi jalur Curup–Muara Aman saat ini adalah permainan judi dengan nyawa sebagai taruhannya. Lubang sedalam sumur, drainase yang mati total, dan tanjakan licin yang mematikan telah mencekik leher ekonomi warga. Harga pangan meroket, akses medis terputus, dan Lebong kini berada di ambang kebangkrutan total secara sistematis.
Rakyat sudah mual dengan janji manis atau kunjungan lapangan formalitas yang hanya berakhir dengan sesi foto narsistik. Rakyat butuh aspal yang kokoh, bukan pidato kosong! Jika pengabaian ini terus berlanjut, jangan salahkan jika rakyat menyimpulkan bahwa pemerintah memang sengaja membiarkan Kabupaten Lebong terisolasi dan mati perlahan.
Camkan ini: Kursi mewah yang kalian duduki itu dibayar oleh air mata dan darah rakyat yang kepayahan di jalanan. Jangan sampai kutukan rakyat menjadi satu-satunya warisan yang kalian bawa hingga ke liang lahat.
(Tim Investigasi PPWI)












