Cybermabespolri.co.
Bayung Lencir kembali diuji kesabarannya. Bukan karena bencana alam, bukan pula karena kejadian luar biasa—melainkan karena sesuatu yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar listrik. Pemadaman berjam-jam yang terjadi belakangan ini seolah menjadi “menu rutin” yang terus disajikan kepada masyarakat tanpa kejelasan.
Di tengah suhu yang menyengat dan aktivitas warga yang semakin bergantung pada listrik, padamnya aliran listrik bukan sekadar gangguan kecil. Ini pukulan telak. Pelaku usaha merugi, pekerjaan terhambat, dan aktivitas rumah tangga lumpuh total. Ironisnya, kondisi ini seperti dianggap biasa saja, seakan warga harus maklum dan terus menelan keadaan tanpa banyak tanya.
Tidak sedikit warga yang mulai geram. Informasi yang minim, pemadaman yang datang tanpa aba-aba, hingga durasi yang tak masuk akal membuat kepercayaan publik semakin terkikis. Di era yang katanya serba modern, Bayung Lencir justru seperti ditarik mundur ke masa ketika listrik masih menjadi barang mewah.
Lebih menyakitkan lagi, janji-janji perbaikan yang sering digaungkan terdengar seperti kaset rusak—diputar berulang, tapi tak pernah benar-benar terbukti di lapangan. Masyarakat bukan menuntut hal muluk. Mereka hanya ingin kepastian, kapan listrik menyala, dan kapan mereka bisa menjalani hidup tanpa dihantui gelap berkepanjangan.
Pemadaman listrik bukan hanya soal mati lampu. Ini soal pelayanan, soal tanggung jawab, dan soal bagaimana kebutuhan dasar masyarakat dipenuhi dengan layak. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kemarahan warga akan berubah menjadi ketidakpercayaan yang lebih besar.
” Sudah tiga hari ini pemadaman tanpa henti dengan durasi pemadaman sampai berhari-hari, kami warga mendesak agar pemerintahan kecamatan dan pemkab muba untuk mencari solusi terkait permasalahan listrik di wilayah kecamatan Bayung Lencir”ucap warga.
Disaat warga datang mengeruduk kantor pelayanan warga tidak menemui satupun petugas PLN di Lokasi Posko, Menambah kekecewaan warga.












