Cybermabespolri.com
PALEMBANG – Citra kepolisian kembali tercoreng oleh aksi ala premanisme yang diduga dilakukan oleh oknum perwira menengah. Kompol Amin Hanafi, SH, seorang polisi aktif yang bertugas di Polda Sumsel, dilaporkan telah melakukan penganiayaan brutal terhadap seorang kurir ekspedisi J&T hanya karena masalah sepele: ditagih uang paket COD.
Peristiwa memuakkan ini terjadi pada Kamis, 13 Maret 2026, di kediaman/kosan terlapor. Kejadian bermula saat korban berniat menagih pembayaran paket COD yang telah diantarkan sejak pagi hari. Karena pesan WhatsApp tak kunjung dibalas, korban berinisiatif menanyakan bukti transfer secara sopan saat mengantarkan paket kedua di sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB.
Bukannya membayar kewajiban, sang Kompol justru meledak amarahnya. “Kau cak ketakutan (seperti ketakutan), pasti kubayar!” bentak oknum tersebut sebelum melontarkan kata-kata kasar “goblok” kepada korban yang hanya menjalankan tugasnya.
Aksi Koboi di Balik Seragam:
Ketegangan memuncak saat korban mempertanyakan alasan perlakuan kasar tersebut. Tanpa ampun, oknum berpangkat melati satu ini diduga melakukan kekerasan fisik secara membabi buta. Pinggang korban dipukul, rambutnya dijenggut, hingga punggungnya ditendang.
Tak berhenti di situ, saat korban berusaha menyelamatkan diri keluar pagar, oknum Kompol tersebut melontarkan ancaman yang sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang penegak hukum:
“Kau kalau ketemu aku sekali lagi ngantar paket sini, habis kau ku buat!”
Beruntung, rekan korban sesama kurir yang berada di lokasi segera melerai dan menyuruh korban pergi sebelum penganiayaan semakin parah.
Hukum Harus Tegak, Bukan Tebang Pilih:
Tindakan Kompol Amin Hanafi ini menjadi preseden buruk di tengah upaya Polri memperbaiki citra di mata masyarakat. Seorang kurir yang mengais rezeki dengan jujur justru menjadi samsak amarah oknum yang seharusnya memberikan rasa aman.
Kini, publik menunggu ketegasan Kapolda Sumsel dan Propam Polda Sumsel. Apakah pangkat Kompol akan menjadi perisai bagi tindakan kriminal, ataukah hukum akan menyeret sang oknum tanpa pandang bulu? Rakyat menonton, dan keadilan untuk kurir kecil ini tidak boleh ditawar.












